// API callback
av({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","entry":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$blogger":"http://schemas.google.com/blogger/2008","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-875899154744260851.post-2018867544149528927"},"published":{"$t":"2017-12-17T23:43:00.003-08:00"},"updated":{"$t":"2020-09-06T19:41:22.433-07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"entertaiment"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"mistery"}],"title":{"type":"text","$t":"Penemuan Situs Purbakala di Garut Berumur 3000 Tahun Sebelum Masehi"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg src=\"http:\/\/www.inilahkoran.com\/gallery\/?file=content\/jabar\/batu-raden-garut4.jpg\u0026amp;size=700\u0026amp;res=90\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nGarut- Kompleks bebatuan unik bersusun mirip di situs Gunung Padang Cianjur ditemukan di Desa Margalaksana Kecamatan Bungbulang selatan Kabupaten Garut baru-baru ini diduga merupakan hasil karya manusia zaman purba dibuat setidaknya sekitar 3.000 tahun sebelum masehi (SM).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nKomplek Batu Raden disebut-sebut berpotensi sebagai situs megalitikum memiliki punden berundak yang luasnya melebihi situs Gunung Padang yang memiliki luas bagian permukaan sekitar 900 m2.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Hasil analisa sementara, batu ini bukan hasil alam, tapi hasil tangan manusia. Ini berdasarkan penelitian TIM MARI (Masyarakat Arkeologi Indonesia) dari Bandung kemarin. Tampaknya, memang perlu penelitian lebih lanjut,” kata Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Garut Cecep Saeful Rahmat, Selasa (18\/7\/17).\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nCamat Bungbulang Heri Hermawan berpendapat komplek Batu Raden belum bisa diputuskan sebagai situs purbakala, atau lainnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\"Harus berdasarkan kajian pihak berkompeten, dan saat ini sedang diupayakan untuk itu,\" ujarnya.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBerbeda dengan dikemukakan Koordinator Tim Paguyuban Jagaraksa Karuhun asal Bungbulang Anwar Sodik yang mendampingi Tim MARI selama penelusuran lapangan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSodik menuturkan, berdasarkan hasil penelusuran dilakukan Tim MARI termasuk di dalamnya Tim Geologi Universitas Padjajaran, dan Tim Peneliti Kebudayaan yang berpengalaman melakukan penelitian di situs Gunung Padang Cianjur, pada kompleks Batu Raden ditemukan fakta-fakta baru lebih kaya dibandingkan situs Gunung Padang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSitus Batu Raden yang berada sekitar 300 meter di atas permukaan laut berjarak sekitar 3-4 kilometer dari pantai selatan Cijayana Mekarmukti Garut itu diduga memiliki luas areal mencapai 24.000 hektare meliputi empat desa, termasuk wilayah Desa Margalaksana Kecamatan Bungbulang, dan Desa\/Kecamatan Mekarmukti.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSelain bebatuan berbentuk balok\/pancang\/tiang berbagai ukuran, serta batu bundar bersusun disebut batu susun, di komplek Batu Raden juga ditemukan batu berlapis disebut batu belang, atau batu sisik karena bentuknya persis sisik ikan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nBatu susun ditemukan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikawung dengan ketinggian dinding berkisar 50 meter hingga 70 meter. Berjarak sekitar 1,2 kilometer dari sana ditemukan dinding batu belang, atau batu sisik berketinggian 70 meter hingga 90 meter dengan bagian dinding baru tersingkap dari sebelumnya tertutup tetumbuhan sepanjang 300 meter.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDi bagian bawahnya terdapat tumpukan batu susun masuk kawasan Leuweung (hutan) Raden. Batu pancang\/tiang sendiri ditemukan sedikitnya di 30 titik.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nPada masing-masing dinding batu mulai bagian bawah hingga puncak terdapat semacam undakan, mirip situs-situs punden berundak mirip di kawasan situs cagar budaya punden berundak Batu Lulumpang Cimareme Banyuresmi Garut, dan daerah lainnya, termasuk situs Gunung Padang.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Dinding-dindingnya itu selain berundak, juga terdapat beberapa lubang semacam tempat berpijak untuk menaiki dinding batu. Ini menguatkan dugaan para ahli kemarin bahwa Batu Raden ini merupakan buatan manusia, bukan bentukan alam. Kalaupun ini bentukan alam, namun tetap ada keterlibatan perlakuan manusia di dalamnya. Makanya komplek Batu Raden ini pun layak disebut situs budaya, atau situs prasejarah,” kata Sodiq disertai Pamager Luar Paguyuban Jagaraksa Karuhun Jajang Sopyan.\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cimg src=\"http:\/\/www.inilahkoran.com\/gallery\/?file=content\/jabar\/situs-bungulang.jpg\u0026amp;size=700\u0026amp;res=90\" \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nYang lebih menguatkan bila kompleks Batu Raden itu merupakan situs budaya, lanjut Sodik, di sekitar lokasi juga ditemukan dinding batu tulis dengan tulisan diduga berbahasa\/aksara Ibrani, salah satunya di Kampung Cibiru Ranca Kawung Desa\/Kecamatan Mekarmukti.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nJuga, terdapat sejumlah bangunan makam tua misterius berukuran besar dan panjang di lokasi berbeda. Salah satunya makam sepanjang 7 meter dengan lebar 2 meter disebut makam Raden Purba Kawasa di kawasan Leuweung Raden Kampung Cikaso Mekarmukti.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n“Yang cukup aneh, pada susunan batu-batu yang ditemukan itu ada semacam lem atau semen yang mengikat satu batu dengan lainnya. Ada dugaan juga jika di balik dinding-dinding batu di situ Batu Raden ini sudah terbangun ruangan-ruangan,” kata Sodiq.\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nDengan sejumlah temuan itu, apakah situs Batu Raden akan menjadi situs prasejarah fenomenal paling besar di dunia menggeser situs Gunung Padang yang sebelumnya disebut-sebut situs prasejarah terbesar ?\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: justify;\"\u003E\nSemuanya masih menjadi misteri. Berbagai riset dan penelitian masih harus terus dilakukan untuk menemukan fakta-fakta ilmiah terbaru untuk mengungkap apa sebenarnya yang ada di balik Situs Batu Raden ini. [ito]\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nsumber:inilahkoran.com"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.mozunote.com\/feeds\/2018867544149528927\/comments\/default","title":"Post Comments"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.mozunote.com\/2017\/12\/penemuan-situs-purbakala-di-garut.html#comment-form","title":"0 Comments"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/875899154744260851\/posts\/default\/2018867544149528927"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/875899154744260851\/posts\/default\/2018867544149528927"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.mozunote.com\/2017\/12\/penemuan-situs-purbakala-di-garut.html","title":"Penemuan Situs Purbakala di Garut Berumur 3000 Tahun Sebelum Masehi"}],"author":[{"name":{"$t":"Mozu"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/15656279653354976812"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"thr$total":{"$t":"0"}}});